20.000 (KM) ENTOG MENGASPAL

Hari ini entog jarak yang telah ditempuh entog telah mencapai 20.000 Km, sebelum mencapai jarak sejauh 20.000 km, entah seberapa sering si entog keluar masuk bengkel, bahkan pada awal entog masih bertransformasi menuju penyempurnaan dengan kecepatan maksimal saja si entog disalip dengan gowesan santai pesepeda, sungguh itu adalah kejadian lucu ketika kita melakukan test drive entog, gaya si rider sudah seperti valentino rossi lengkap dengan pengaman badan, sarung tangan, helm full face, sepatu boot, serta tidak ketinggalan pelindung tulang kering. Si rider mulai menstarter entog dan dengan pengapian yang sempurna raungan mesin si entog desibelnya setara motor yang dilombakan di kelas motogp lalu mengaspalah kita dijalanan, saya membonceng waktu itu dan performa si entog tidak sesuai dengan ekspektasi dan gaya tengil si rider kecepatannya terlalu lambat yang bikin nyesek adalah disalip sepeda, ada rasa kesel dan ngakak, keselnya adalah itu entog baru keluar dari bengkel, ngakaknya adalah naik entog penuh dengan gaya tapi malah disalip oleh motor.

Memodifikasi entog adalah sebuah terobosan yang berani tentunya tidak sedikit uang saya keluar untuk mereparasi entog, dari awal entog itu sudah salah setting tidak semua orang bisa mengendarai entog walaupun kelihatanannya mudah, bahkan saya sendiripun perlu latihan selama seminggu untuk bisa menungganginya.

Hampir 5 tahun saya menunggangi entog, rasanya lebih banyak kenangan manis yang bisa diingat, ketika dijalanan, tidak sedikit orang yang terheran-heran seperti melihat mainan baru ketika sedang mengaspal di jalan, tidak sedikit pula anak-anak kecil yang berteriak histeris ketika melihat entog, dan banyak pula orang yang menyapa dan tersenyum walaupun saya tidak kenal sama sekali orang tersebut, dan yang lebih penting adalah entog adalah teman setia ketika saya kuliah bahkan sampai saya lulus S2, ke kantor, jalan-jalan ketika hati senang dan resah, bisa bernyanyi-nyanyi dijalanan dengan sekeras-kerasnya karena sekeras-kerasnya suara elu gak bakalan bisa mengalahkan suara knalpot entog, saya sangat selektif dalam membonceng cewek dengan entog terhitung cuma 9 cewek yang pernah dibonceng dengan entog bukan jual mahal tapi demi faktor keamanan saja dan yang dibonceng tentunya berat badannya harus dibawah 60 Kg, sedangkan untuk cowok sendiri baru 4 atau 5 orang yang saya bonceng. Pernah suatu ketika terjebak banjir besar di depan kantor, mesin entog mati tapi masih bisa mengapung kayak papan seluncur wkwkwkw, knalpot copot ketika sedang merayap naik di flyover roxy juga pernah, ditabrak mobil pas mau masuk terowongan tanah abang juga sudah dialamin entog, dan hal yang paling memalukan adalah nabrak ibu-ibu yang baru turun dari ojeg saya gak fokus karena godain gadis bali temen sekantor yang lagi naik angkot hahaha malu bener klo inget kejadian itu dan entog pula yang berjasa menambah teman-taman dan komunitas-komunitas baru.

Tugas utama entog adalah mengantarkan saya kuliah di dua kampus yang berbeda diwaktu bersamaan, dan hampir 90% telah terselesaikan tugas tersebut, mungkin tidak lama lagi saya akan memuseumkan entog dan mengganti dengan kendaraan yang pengamannya tidak memakai helm dan berganti dengan sabuk pengaman.

Untuk pembaca yang belum kenal dengan penulis mungkin masih belum terbayang apa yang dimaksud dengan “entog”. Silahkan imajinasikan sendiri saja ya…..

Author: jaryat

Pelan tapi tetap berjalan....