Media Informasi

Akhir-akhir ini sulit sekali untuk menemukan berita yang benar-benar membawa yang membawa informasi yang baik, benar, mendidik dan objektif. Semua media informasi baik cetak maupun elektronik sudah dikuasai para pemilik yang memiliki kepentingan politik sehingga berita yang disampaikan penuh dengan kepentingan para pemiliknya.

Apalagi berita infotainment yang hampir semuanya berisi informasi sampah yang tidak bermutu, berita yang masih orisinil ya sepertinya cuma berita olahraga, walaupun lebih banyak dukanya membaca dan melihat prestasi olahraga negara ini tapi itu tetap tidak menyurutkan untuk selalu berdoa dan mendukung setiap cabang olahraga yang bertanding.

Media informasi sudah dimiliki oleh para pemilik modal besar baik dari dalam maupun dari luar negeri, dengan sangat mudah untuk memutar balikan fakta yang ada hingga membuat dunia ini menjadi abu-abu, tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan, mana yang baik dan mana yang buruk.

Ditambah lagi dengan era nya keterbukaan informasi menjadikan semua orang bebas berpendapat dan merasa paling benar tapi bagus nya era ini adalah setiap orang bisa saling mengontrol dan mengawasi dan tidak ada lagi rahasia di dunia ini.

Andaikan media informasi tidak dikuasai oleh segelintir orang mungkin kegaduhan-kegaduhan yang ada tidak akan sering terjadi….

Ya andaikan……

Sedikit cerita dari bulan Agustus

Wihhh ternyata bulan agustus telah lewat bahkan sekarang sudah lewat beberapa hari dibulan september, bulan kemarin mungkin adalah bulan tersibuk ditahun ini. Tidak hanya sibuk secara fisik tetapi juga sibuk secara emosi.

Awal Agustus untuk pertama kalinya saya coba berbisnis kecil-kecilan tanpa dibantu oleh orang tua dalam perekrutan karyawan, urusan operasional, belanja dsb. Semua keputusan mutlak ada ditangan saya, dan celakanya saya belum siap untuk hal itu, saya belum memiliki ketegasan dalam pengambilan keputusan dan masih perlu belajar lebih banyak lagi agar keputusan yang diambil bisa lebih bijak.

Permasalahan pertama yang membelit adalah mengenai karyawan, rencana awalnya saya akan mentraining karyawan tersebut selama 2 bulan supaya dia bisa mahir, tapi mimpi itu terlalu muluk, baru sehari karyawan tersebut bilang tidak betah dan ingin pulang. Setelah dibujuk akhirnya dia mau untuk mencoba lagi beberapa hari, kemudian dia tetap tidak betah dengan alasan tidak cocok sama trainernya dan dia minta bawa temennya supaya betah, disinilah ketidaktegasan saya muncul, saya turuti kemuan dia karena bergaining position saya waktu itu tidak menguntungkan.

Dia menepati janji dengan membawa karyawan baru, saya langsung lega, tapi kelegaan itu hanya berlangsung beberapa jam saja, setelah semalem kerja karyawan baru tersebut ngambek dan menghilang entah kemana hanya karena gara-gara ketika balik kerja si karyawan lama yang membonceng karyawan baru dengan naik motor menuju kontrakan nyasar terus arahnya, si karyawan baru minta turun kemudian dia jalan melawan arah di jalanan ramai yang searah, sampai karyawan baru kehilangan jejak, sialnya pas kejadian karyawan baru hilang posisi saya sedang ada tugas kantor di bogor selama 2 minggu.

Kelimpungan juga mencari si karyawan baru ini, adik saya repot muter-muter bareng karyawan lama keliling daerah senen dan sekitarnya hasilnya tetep nihil tidak ketemu ditambah waktu itu hujan seharian sempet kepikiran untuk lapor ke polisi tapi karena belum 1 X 24 jam saya mengurungkan niat untuk lapor, yang membuat saya khawatir adalah dia cuma membawa uang 50 ribu rupiah. Tapi untunglah saya mendapat kabar dari kampung pegawai baru itu berasal dia sudah balik.

Ternyata menjadi enterpreneur itu tidak semudah bibir motivator mengucapkan harus keluar dari zona nyaman, terutama pada awal-awal merintis usaha, sangat menyita waktu lebih pusing lagi ketika kita masih bekerja bisa-bisa kurang tidur.

Besoknya pegawai lama minta resign juga padahal semua keinginan dan kebutuhan dia sudah dipenuhi tetep aja minta keluar fyuhhhh, sinus yang melanda selama sebulan ini terasa semakin parah, kepala senut-senut, ingus mengalir bagai mata air yang tak ada habisnya, ditambah lagi saya menerima tugas lagi ke bandung kurang lebih 2 minggu.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menjadikan trainer tersebut menjadi karyawan dengan perjanjian sistem setoran selama sebulan sekali selama saya belum mendapatkan karyawan. Padahal kalau saya punya karyawan tetap keuntungannya bisa berlipat-lipat. Pelajaran yang bisa saya petik adalah berbisnis itu bukan sekedar hanya mencari keuntungan tapi bangunlah networking, hubungan dengan pegawai dan jadilah penyalur berkat untuk orang lain.

Konsekuensi yang lain ketika baru merintis usaha adalah berkurangnya waktu nongkrong-nongkrong dengan teman-teman bahkan harus dicuekin tapi ya gpp, memang harus sedikit egois ketika mempunyai cita-cita.

Selain merintis usaha saya juga sedang mencoba menanam dengan teknik hidroponik dan berkebun, setelah 3 bulan menanam akhirnya cabe-cabe dan tomat, pakcoy sudah siap dipetik.

Ada lagi kejadian yang menarik, setelah makan siang saya diminta jadi imam solat, selama berkarir dalam kehidupan saya tidak pernah diminta menjadi imam solat dan di mushola itu cuma berdua. Untung saja itu pas solat ashar yang tidak perlu membacakan bacaan surat dari Alquran. Cuma bersuara ketika Allahu Akbar,,, Allahu Akbar doang….

Dan bulan agustus saya kembali ke bandung dan bisa keluyuran malem-malem nostalgia seperti dulu kala……

Bener kata Pidi Baiq “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi

Oke sekian dari saya dan selamat sore……