Persib Bandung

Persib Bandung adalah salah satu klub lokal satu-satunya yang saya sukai, klub kebanggaan kota bandung dan jawa barat ini seolah menghipnotis saya menjadi fans dengan fanatisme yang berlebihan, klub yang konon sewaktu dulu mempunyai ciri bermain dengan permainan cantik dari kaki ke kaki layaknya tiki taka di jaman sepakbola modern walaupun selama saya menjadi pendukung klub ini belum pernah melihat gaya permainan tersebut tapi saya tidak peduli saya tetap menjadi fans setianya. Kebanggaan dan kecintaan bapak kepada klub ini menurun langsung ke saya dan secara alamiah saya menjadi bobotoh dengan sendirinya.

Awal mula saya menjadi bobotoh setia dan mengikuti perkembangan Persib Bandung adalah ketika bergulirnya liga indonesia profesional pertama yang kala itu menyatukan kesebelasan yang berasal dari galatama dan perserikatan dan disponsori oleh perusahaan rokok Dunhill maka Liga tersebut dinamakan Liga Dunhill dan kompetisi bergulir di tahun 1994/1995, Persib waktu itu hanya diisi pemain lokal, pemain andalannya waktu itu seperti Anwar Sanusi, Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, Yudi Guntara, Kekey Zakaria, dan Sutiono Lamso. Pelatihnya kala itu adalah abah Indra Thohir, di liga indonesia pertama Persib Bandung meraih prestasi maksimal dengan menjadi juara dengan mengalahkan petrokimia putra di final yang digelar di gelora bung karno, lebih dari 100ribu penonton memadati stadion, gol semata wayang diciptakan oleh sutiono lamso. Gol tersebut membuat seisi stadion bergemuruh, dan keesokan harinya kota kembang menjadi lautan biru. Diwaktu itu kelompok suporter belum ada yang namanya viking atau bomber dsb, yang ada hanya bobotoh itu adalah sebutan untuk pendukung Persib.

Setelah menjuarai Liga Indonesia pertama dalam beberapa tahun Persib masih mempertahankan penggunaan pemain lokal tapi seiring berjalanannya waktu akhirnya Persib menggunakan pemain asing, pada awalnya pemain asing rekrutan Persib berasal dari Polandia, itu mungkin masih dejavu dengan pelatih Persib yang sukses di era Perserikatan yang berasal dari polandia yaitu marek janota. Kualitas pemain asing dari Polandia tersebut masih dibawah standar pemain lokal dan mereka tidak lama memperkuat Persib Bandung.

Prestasi Persib menurun drastis selama 19 tahun setelah menjuarai Liga Indonesia pertama tersebut ditambah lagi dengan keributan antar suporter, beberapa tahun menjelang kebangkitan prestasi Persib Bandung saya pindah dari bandung dan tinggal di Jakarta, kota yang telah menjelma menjadi musuh bebuyutan tidak hanya di dalam lapangan tapi diluar lapangan juga dan hal itu telah memakan banyak korban jiwa yah salah satunya adalah adik angkatan di kampus saya yang telah terenggut nyawanya hanya untuk sebuah fanatisme sempit dalam sepakbola, dan hal itu tidak boleh terjadi lagi, saya merindukan sepakbola walaupun mendukung klub yang berbeda tapi tetap damai dan pendukungnya tidak bertindak kampungan.

Tepat setelah 2 dasawarsa kemudian Persib kembali menjuarai Liga Indonesia yang disebut ISL (Indonesia Super League) untuk kedua kalinya di stadion jakabaring, palembang. persib bandung memumpuskan harapan Persipura Jayapura lewat adu penalti setelah selama 90 menit skor berkududkan imbang 2-2. Achmad Jufriyanto menjadi penentu kemenangan persib dalam drama adu penalti tersebut. Pemain andalan menjuarai Liga Indonesia kedua ini adalah I Made Wiryawan, Vladimir Vucovic, sepasang bek sayap M Ridwan dan Supardi, sayap lincah sekaligus potensi lokal Atep, didikan asli persib yang baru kembali dari perantauan Ferdinand Sinaga, Kapten sekaligus playmaker Firman Utina, gelandang pengangkut air Hariono. Sayangnya kemenangan ini kembali merenggut korban akibat pelemparan batu ketika suporter pendukung Persib menuju dan kembali dari Stadion Jakabarang. Skuad Persib kembali ke Bandung disambut bak pahlawan yang kembali dari medan tempur, penyambutan tim kesayangan membuat Kota Bandung membiru dan macet total, wajarlah 2 dekade para bobotoh haus akan prestasi dan bisa dipuaskan dahaga tersebut dengan merenggut kampiun di pentas teratas sepakbola nasional.

20151018_173840
Final Piala Presiden

Untuk mengisi kekosongan kompetisi akibat hukuman dari FIFA yang terjadi karena kekisruhan di induk sepakbola indonesia (PSSI) dengan pemerintah. Tepat setahun kemudian persib kembali menjadi kampiun di Piala Presiden di Final Persib menghempaskan perlawanan Sriwijaya FC 2-0. Menjadi istimewa karena persib bandung juara dikandang musuh bebuyutan abadi yaitu di Gelora Bung Karno, mengulangi sejarah 21 tahun yang lalu, sebelum pertandingan sempat diusulkan agar final dipindahkan ke kota lain, tapi Presiden Joko Widodo tetap ingin pertandingan digelar di jakarta, pengamanan ketat dan berlapis terjadi sebelum dan sesudah pertandingan walaupun sedikit ada kekisruhan pertandingan tersebut berjalan dengan lancar dan aman.

Harapan saya kedepan adalah agar persepakbolan nasion sarat akan prestasi dan muncul dipentas dunia, Persib Bandung semakin berprestasi, dan tidak ada lagi jatuh korban jiwa hanya untuk fanatisme sempit sepakbola.

Author: jaryat

Pelan tapi tetap berjalan....