Etika Pemain Sepakbola Menggunakan Sosmed

Rivalitas antara Persib Bandung dan Persija memang sudah lama terjadi sejak era Perserikatan, pada era Perserikatan rivalitas hanya terjadi ketika di lapangan jarang sekali terjadi keributan di luar lapangan. Persija di era 80 dan 90-an adalah klub semenjana yang seret prestasi ditambah lagi dengan kesulitan finansial dan tidak memiliki basis massa yang besar.

Baru diawal tahun 2000 setelah dipegang oleh Gubernur Sutiyoso atau lebih dikenal Bang Yos yang fanatik dengan sepakbola prestasi Persija mulai mentereng lagi seperti di era 70-an, kesulitan finansial perlahan sirna, dan mulai memiliki suporter yang fanatik. Kebencian suporter kedua tim mulai tumbuh di tahun 2003 ketika kedua suporter mengikuti kuis “Siapa Berani” di salah satu stasiun tv di Jakarta dan The Jak kalah kuis dengan Bobotoh setelah acara selesai The Jak melakukan penganiayaan terhadap Bobotoh dan korban berjatuhan. Terus terang saya tidak habis pikir dengan hal semacam ini bisa dibilang ini konyol sekali. Acara kuis bukannya menjadi ajang saling silaturahim malah berantem. Setelah kejadian itu dendam selalu muncul pada kedua suporter dan selalu ada korban yang berjatuhan.

Usaha untuk melakukan perdamaian telah diusahakan berbagai pihak untuk mengurangi jatuhnya korban ketika suporter kedua tim sedang mengusahakan untuk saling meredam emosinya dan untuk saling bedamai, tiba-tiba pemain Persija melakukan tindakan yang tidak terpuji di sosial media. Sebagai pemain profesional tentunya harus bisa menggunakan sosial media secara bijak karena mereka sudah termasuk ke dalam publik figur dan menjadi panutan banyak orang dan klub yang dibela oleh si pemain itu mempunyai basis massa yang sangat besar, sangat berbahaya jika melakukan ujaran kebencian di sosial media, sebagai pemain profesional janganlah menyebar kebencian dan berkata kasar di sosial media untuk mengurangi korban yang berjatuhan, banyak sekali suporter yang berusia muda dan belum matang secara pemikiran dan tentunya itu akan mudah sekali tersulut emosinya jika pemainnya sendiri bersikap provokatif di sosial media. Klub-klub besar Eropa juga mengontrol penggunaan sosial media para pemainnya, klub tidak akan segan-segan untuk menghukum pemain jika mereka melanggar peraturan penggunaan sosial media yang ditetapkan oleh klub.

Hal konyol pun terjadi kembali ketika adik sepupu saya sendiri telah menjadi korban pengeroyokan dan pembacokan setelah pulang dari nobar bareng, dia dicegat dijalan setelah tidak berdaya dan tidak sadar kemudian dibuang ke sawah, untung nyawanya masih terselamatkan, kebetulan dia adalah pendukung Persija, saya sebagai pendukung fanatik Persib tidak mau membenarkan hal-hal anarkis seperti ini. Sepakbola ya sepakbola hanya untuk kesenangan, kesehatan dan jika dikelola dengan baik bisa menjadi industri yang menguntungkan secara ekonomi. Kalah dan menang di sepakbola adalah hal biasa janganlah ditanggapi secara berlebihan itu hanya permainan, kita menonton sepakbola itu sebagai hiburan, janganlah bersifat barbar seperti binatang saling bacok, lempar batu, lempar botol, dan saling bunuh. Akhir-akhir ini juga saya kecewa dengan bobotoh Persib karena jika Persib kalah selalu ada lemparan botol kelapangan dan menyalakan kembang api dan flare dan jelas-jelas itu dilarang karena bisa membahayakan orang lain.

Impian saya adalah menonton sepakbola ke stadion tanpa ada perasaan was-was dan para suporter saling berjabat tangan dan kalau perlu saling nongkrong untuk sekedar ngopi-ngopi lucu dan menghilangkan segala rivalitas setelah pertandingan. Kita adalah teman dan saudara yang sama-sama suka sepakbola janganlah terkungkung dalam fanatisme sempit. Sejatinya adalah sepakbola adalah mengajarkan sportifitas kalau menang ya senang (Hal paling menyenangkan adalah ketika Persib Juara Liga Indonesia dan Piala Presiden di Jakarta, Jakarta dibuat menjadi BIRU bukan orange) jika kalah ya nyesek sih (kekalahan paling menyesakkan adalah di musim lalu ketika gol dari Ezechiel N’Douassel tidak disahkan oleh wasit Evan Shaun Robert padahal setelah dilihat dari tayangan ulang Gol tersebut seharusnya sah ) tapi harus legowo setelah selesai pertandingan ya sudah kehidupan normal kembali tidak ada saling caci dan benci apalagi harus saling bunuh-bunuhan. Semoga sepakbola baik ditingkat klub maupun timnas segera memiliki prestasi yang membanggakan, harusnya pemain dan suporter berpikir prestasi sepakbola ditingkat Asia Tenggara saja belum bisa berprestasi janganlah berbuat yang menambah coreng dan beban yang semakin memberatkan persepakbolaan nasional.

About jaryat

Tagline : "Pelan tapi tetap berjalan" Hobi bersepeda, berenang, dan menghirup udara segar, penikmat alam dan taman, bobotoh PERSIB dari orok. Email : jaryat@gmail.com
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Etika Pemain Sepakbola Menggunakan Sosmed

  1. aing the jackk… haahahaha keren bang

  2. Ristiyanto says:

    Arema, tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana.

  3. ? Tuty prihartiny says:

    Saya dulu sering nonton langsung ke senayan… Tapi kok sekarang ndak lagi… agak ngeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *